Pages

Tuesday, March 24, 2015

Investasi Kebaikan



Dikisahkan dua orang general manager yang memimpin sebuah cabang perusahaan di kota yang sama. Pemimpin pertama adalah seorang pimpinan dari sebuah cabang perusahaan asuransi, sementara orang kedua adalah pemimpin perusahaan dari sebuah bank BUMN di kota tersebut.  


Pimpinan yang pertama selalu bersikap santun pada semua orang dengan tetap menjaga wibawanya. Semua karyawan dari petugas security sampai level manager disapanya, ia tak membedakan sikap pada semua karyawanya. Sang bos pun tak segan langsung memberi contoh pada semua bawahannya untuk melaksanakan arahannya. Sang bos pun selalu menjadi orang yang pertama menjenguk ketika mengetahui ada karyawanya tak masuk kerja karena sakit.

Di waktu senggang, dia sempatkan mengobrol dengan seluruh karyawan tanpa membedakan tingkatan di perusahaan. Saat beberapa pelanggan mengajukan komplain, sang bos tak segan membantu memberikan solusi tanpa langsung menyalahkan bawahannya. Ketika rapat kerja, dia selalu juga rela pasang badan jika keputusan yang diambil dalam rapat tak sesuai yang diharapkan.

Tiba-tiba sang bos dimutasi ke daerah lain setelah lima tahun memimpin cabang tersebut. Seluruh karyawan menangis saat hari kepergiannya, dan mengantarkan bekas pimpinan mereka ke bandara meski saat itu hari libur. Semua karyawan merasa berat hati ditinggalkan pemimpin yang bisa membawa semangat kerja sekaligus rasa nyaman tersebut.

Sementara,  pemimpin kedua adalah bos pindahan dari Jakarta yang kini ditugaskan memimpin cabang bank kota tersebut. Di depan semua karyawan, ia jaga wibawanya. Ketika datang ke kantor, ia tunjukan muka acuh.  Jangankan pada petugas security, pada teller di depan kantor pun ia tak pernah mau menyapa. Ketika rapat ia galak bak singa dan menyalahkan bawahannya dengan kerap menggebrak meja.  Seisi kantor menjadi bisu akibat tekanan kerja yang diberikan.

Ia hanya tebarkan senyum ketika seorang direktur dari Jakarta datang menginspeksi kantor cabangnya.  Karyawan yang sudah jadi korbannya kasak kusuk menceritakan kegalakan bos barunya saat jam makan siang. Tiba-tiba kabar gembira berembus, si bos akhirnya dipindah ke Kalimantan. Seisi kantor pun gembira luar biasa.  Beberapa karyawan bahkan diam-diam menggelar syukuran untuk merayakan kepergian sang bos. Saat kepergiannya, hanya segelintir karyawan yang mengantarnya ke bandara, itu pun tak lebih dari setor muka.

Kisah dua bos cabang perusahaan tersebut memberikan pelajaran bahwa pimpinan perusahaan tak hanya dituntut membawa nilai kerja dan target semata perusahaan, namun membawa semangat pada seluruh karyawan mencapai tujuan perusahaan. Sebagai sebuah entitas BUMN dengan ratusan karyawan yang tersebar di hampir seluruh wilayah tanah air, kemajuan pesat DAHANA tak bisa dilepaskan dari sikap pemimpin yang memahami kondisi bawahannya.

Kedekatan karyawan dengan pimpinan perusahaan membawa arah perusahaan yang dirumuskan bisa dipahami dan dijalankan dengan baik oleh seluruh karyawan di setiap levelnya. Tanpa mengesampingkan standar prosedur operasi yang telah ditetapkan, komunikasi dan hubungan baik pada setiap jenjang lebih dibutuhkan saat menjalankan operasi bisnis DAHANA.

Untuk dikenang dalam kebaikan dan atau dalam keburukan pada saat akhir nanti adalah sebuah pilihan.  Bagi siapa pun, terutama pimpinan, berkaca diri, apakah bawahan akan merayakan dalam suka cita pada saat meninggalkan posisi saat ini, atau mereka menangis tersedu sedan mengiringi kepergian anda. 

No comments:

Post a Comment

 

PT DAHANA

Jakarta Office:
Menara MTH, Lt.17
Jl. MT. Haryono Kav.23
Jakarta 12820
Indonesia
Telephone +62 21 837 823 17
Facsimile +62 21 837 823 27

PT. DAHANA

Head Office:
Energetic Material Center
Jl. Raya Subang - Cikamurang Km. 12 Cibogo
Subang 41285, Jawa Barat
Indonesia
Telephone+62 260 742 3333
Facsimile+62 260 742 3888